Industri keuangan memasuki fase baru seiring perkembangan teknologi digital. Hal ini ditandai dengan muculnya layanan financial technology (fintech) yang memberikan fasilitas pinjaman tanpa minta agunan ke peminjam.

Direktur Asosiasi fintech Indonesia Ajisatria Suleiman‎ mengungkapkan, pemberian pinjaman tanpa jaminan bukan berarti industri fintech tidak memperhatikan risiko kredit macet. Sebelum memberikan pinjaman, perusahaan fintech telah melakuan analisis secara digital ke calon peminjam.

"Fintech akan menganalisa, kalau butuh bisa langsung lewat platform kita," kata Ajisatria, dalam acara Financial Institution (FinEXPO) & SunDown Run 2018 Jakarta, Sabtu (27/10/2018).

Ajisatria mencontohkan, salah satu hal yang dianalisa adalah transaksi keuangan si calon peminjam, melalui ‎kegiatan tersebut perusahaan fintech bisa memastikan calon peminjam layak diberikan pinjaman.

"Dengan teknologi kita dapat analisa orang bisa dapat pinjaman atau tidak. Misal kita lihat tukang sate dia sudah masuk GoFood sudah tercatat transaksinya berapa, itu dasar assement," jelasnya.

Fintech biasanya memberikan pinjaman berkisar dari ratusan ribu rupiah hingga Rp 2 miliar. Untuk pinjaman yang mencapai miliaran rupiah biasanya digunakan untuk pelaku usaha.

Selain pinjaman, fintech juga memberikan fasilitas ‎simpanan uang, pembayaran asuransi dan kartu kredit.

"Ada pembayaran, asuransi, produk kartu kredit pinjam meminjam uang. Sekalipun ragamnya banyak lagi‎‎," tandasnya.

Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, mengatakan bahwa kawasan Asia, termasuk Indonesia merupakan tempat yang subur bagi tumbuhnya teknologi finansial (fintech). Hal ini dia sampaikan dalam 'Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi Mengenai Kerja Sama Kawasan untuk Mendukung Inovasi, Inklusi, dan Stabilitas di Asia'.

"Asia, termasuk Indonesia, merupakan tempat ideal bagi teknologi finansial untuk berkembang," kata dia pada Kamis 11 Oktober 2018.

Mirza menjelaskan Indonesia memiliki lebih dari seperempat juta masyarakat yang tersebar di ribuan pulau, menunggu untuk terintegrasi dengan teknologi baru. Ini merupakan sebuah potensi yang besar untuk pengembangan fintech ke depan.

Dia pun mengatakan bahwa pertumbuhan fintech di Indonesia akan diperkuat dengan potensi bonus demografi atau tingginya jumlah generasi muda untuk memasuki dunia digital masa depan.

"lebih dari 50 juta UMKM yang tak sabar menanti untuk terlibat dalam e-commerce. Masyarakat baru yang didorong oleh kelompok kelas menengah yang dinamis dan demokratis, yang memandang ekonomi digital sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, seperti layaknya evolusi." tegas dia.

Teknologi baru seperti mobile banking, big data, dan jaringan transfer peer-to-peer diakui mempunyai banyak manfaat, salah satunya untuk meningkatkan inklusi keuangan.

Teknologi baru telah memperluas jangkauan layanan keuangan kepada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank atau tidak terjangkau bank, sehingga meningkatkan pendapatan dan standar hidup.