Berjalan memasuki sebuah wahana baru yang memiliki fasilitas supercepat tampaknya mudah, layaknya ketika kita ingin meluncur di seluncuran air di kolam renang (water slide) yang panjang.

Sama halnya jika kita melangkah ke mana saja. Jika tidak berhati-hati, memperhatikan dan mempersiapkan diri untuk apapun yang berada di depan, bukan pengalaman menguntungkan serta seru yang dapat diambil, tetapi justru menjadi mimpi buruk.

Untuk sebuah investasi dan layanan keuangan jenis baru, salah satunya peer to peer lending (P2P), kita harus mempersiapkan diri juga. Berikut persiapan yang perlu dilakukan untuk menjadi investor di bidang tersebut.
 


Knowledge is power, and then know the game
Lakukan riset dulu, terutama untuk memahami skema peer to peer lending. P2P adalah financial technology (fintech) alternatif berbentuk skema pembiayaan dari satu pihak ke pihak lain yang saling dihubungkan dengan jaringan internet (online). 

Dana dari investor (lender) dapat digunakan untuk bermacam tujuan oleh peminjam (borrower), dari kebutuhan bisnis, kebutuhan pribadi, hingga pinjaman kuliah. 

Pahami profil risiko diri sendiri dan pahami juga jika skema P2P lebih berisiko daripada investasi pasar modal.

Hal itu didasari alasan pihak yang dipinjami adalah orang asing yang belum dikenal banyak orang, tidak memiliki rekam jejak panjang (rata-rata baru 2 tahun), dan bermodal kecil (UKM).

Perbedaan dengan investasi pasar keuangan dan pasar modal adalah perusahaan di pasar modal sudah dikenal, bermodal besar, dan memiliki rekam jejak panjang.

Selain itu, dua karakteristik yang paling membedakan pasar modal dan P2P adalah P2P memiliki frekuensi transaksi yang terbata (volatilitas rendah) tetapi likuiditasnya juga rendah (less liquidity).

Ingat juga, bahwa segala high risk= high return. Hampir tidak pernah ada investasi berpenghasilan tinggi tetapi memiliki risiko yang minim. Selain itu, perhatikan juga kewajaran dari sebuah investasi.

"Untuk P2P, biasanya 10%-30% masih wajar. Kadang, 40% juga masih ada dan bisa saja terjadi. Namun, kalau sudah ada yang menawarkan 50%, tentu kita bertanya pada diri sendiri, bisnis apa yang dilakukan borrower sehingga bisa mendapatkan keuntungan sebesar itu," ujar Tejasari Asad, Direktur Tatadana Consulting.

Choose a reliable platform
Eko Endarto, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, menyarankan calon investor P2P selalu mengecek legalitas platform keuangan tersebut ke pihak yang lebih pajak, dan sarana yang paling lumrah dirujuk adalah situs OJK di mana bisa dicari direktori dari P2P.

"Bukan untuk membatasi pilihan, tetapi lebih bertujuan melindungi calon investor dari kemungkinan fraud (penipuan), dan untuk melindungi bisnis ini sendiri dari potensi kejahatan," ujar Eko.

Karakteristik platform P2P juga beragam. Beberapa platform P2P ada yang menyediakan layanan informasi borrower yang lebih terbuka bagi calon investornya, sehingga membuat investor merasa lebih mengenal pengguna dananya. 

Ada lagi P2P yang membatasi minimal investasi dari mulai Rp 100.000 hingga miliaran. Namun, batas maksimal pendanaan per borrower yang dibolehkan OJK bagi skema P2P adalah Rp 2 miliar.

Ragam P2P di Indonesia juga memiliki dua kelompok utama, yaitu kebutuhan pribadi (cash loan) dan kebutuhan usaha/bisnis.

Risiko dari kebutuhan pribadi (cash loan) dan kebutuhan bisnis tentu berbeda, di mana risiko kebutuhan pribadi tentu lebih besar karena kebutuhannya tidak disampaikan serta biasanya tidak berjaminan apapun. 

Beda halnya dengan kebutuhan bisnis, di mana borrower dapat menggunakan surat dan barang apa saja untuk dijadikan jaminan (collateral).

Ada juga platform yang sudah matang dan memiliki jaringan yang baik sehingga dapat menjamin pokok pinjaman dengan menggunakan jasa dari asuransi kredit.

Secara garis besar tentu Anda dapat menerka seberapa risiko yang sudah ada di depan mata. Tugas Anda sekarang adalah menimbang seberapa besar yang dapat Anda pangku. 

Ingat juga, potensi keuntungan yang Anda lihat juga mencerminkan risiko kerugian yang berpotensi Anda terima.

Diversify
Baurkan portofolio P2P Anda sehingga risikonya tidak terpusat pada satu platform saja. 

Diversifikasi juga seharusnya dilakukan terhadap seluruh dana investasi Anda, sehingga tidak seluruhnya dimasukkan ke satu jenis investasi saja, salah satunya P2P, tetapi juga dialokasikan untuk deposito, reksa dana, obligasi, dan saham jangka panjang.

Reinvest, and use an automation
Dana yang sudah kembali kepada Anda, tentunya beserta keuntungan, sebaiknya segera direinvestasikan kembali agar perputaran dana Anda tidak berhenti.

Manfaatkan fitur notifikasi dalam platform P2P Anda ketika pinjaman yang Anda berikan sudah jatuh tempo, atau gunakan fitur otomatis reinvest, jika ada.

Keep involved
Jangan bermalas-malasan setelah berinvestasi dengan tetap memantau pasar keuangan domestik dan perkembangan industri P2P.

Aktivitas ini akan selalu membuat Anda belajar lebih baik lagi di setiap waktu sehingga tidak tertinggal informasi yang mungkin bisa membuat Anda menyesal jika melewatkannya, apapun itu.

Take it slow
Investasikan dana Anda secara perlahan. Jangan terburu-buru memasukkan seluruh dana investasi Anda ke dalam satu platform. 

Investasikan dana Anda secara minimal terutama untuk yang pertama kali masuk ke dalam industri ini, sambil mempelajari mekanisme teknis investasi beserta hukum pasar yang berlaku.

Setelah Anda yakin dengan cara dan prospeknya, baru tingkatkan jumlahnya, secara bertahap juga agar tidak kaget dengan kejutan yang mungkin ada di depan Anda nanti.

Nah, setelah Anda melakukan riset dan persiapan-persiapan tadi, tentu pandangan Anda terhadap P2P semakin mendalam dibandingkan dengan sebelumnya. 

Jadi, seperti yang kami sebutkan di awal, tentu ada baiknya jika kita mengenali dan memahami serta memiliki tujuan dari sebuah perjalanan agar tidak menyesal ketika prosesnya sudah lewat, serta agar kita bisa meraih keuntungan dan pengalaman berharga dari sebuah proses investasi.

May the cuan be with you!

 

(sumber : cnbcindonesia.com)