PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan penyaluran kredit Rp 515,81 triliun pada September 2018. Nilai ini tumbuh 17,3% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu Rp 439,65 triliun.

Sekretaris perusahaan BCA Jan Hendra menyatakan kinerja ini disokong oleh kredit produktif. Dimana kredit produktif yang terdiri dari kredit modal kerja dan investasi memberikan kontribusi 73% dari total kredit.

"Segmen korporasi, komersial, SME menjadi penopang utama kredit produktif. Sedangkan secara sektor, dari jasa keuangan, telekomunikasi, dan perkebunan," ujar Jan Hendra kepada Kontan.co.id Jumat (26/10).

Meski kredit produktif memberikan kontribusi yang besar bagi kinerja kredit BCA, bank mampu menjaga kredit macet. Tercermin dari rasio NPL kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) stabil di posisi 1,4%. Selain itu, Jan Hendra juga menyebuat memiliki coverage sekitar 187%.

"Sampai akhir tahun, kita berharap pertumbuhan kredit ini dapat mencapai sekitar 12% year on year," tambah Jan Hendra.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) Parwati Surjaudaja menilai hingga kuartal III-2018, kredit lebih banyak disalurkan kepada sektor modal kerja.
Meski tidak merinci berapa besaran kredit modal kerja, Parwati menyatakan pertumbuhan kredit modal kerja di OCBC lebih cepat tumbuh 1,5 kali-2 kali dibandingkan pertumbuhan kredit investasi.

"Kalau kita lihat, nasabah kalau kita lihat juga berhati-hati dalam melakukan investasi. Mungkin menunggu hasil pemilu juga. Jadi nasabah memilih yang jangka pendek yakni modal kerja antara 6 bulan hingga 1 tahun," ujar Parwati.

Selain itu, Parwati melihat ketidakpastian ekonomi global terutama perang dagang juga turut membuat nasabah berhati-hati dalam melakukan investasi.
Sebelumnya Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit baru melambat pada kuartal III-2018, dibanding kuartal sebelumnya. Ini adalah hasil survei dari 40 bank yang menguasai 80% total kredit perbankan Tanah Air.

Jika dilihat segmennya, permintaan kredit modal kerja mengalami penurunan paling besar yaitu dari 90,2% di kuartal II-2018 menjadi 69,8% di kuartal III 2018.
Disusul kredit investasi dari 73,8% di akhir Juni menjadi 68,9% di akhir September. Lalu, kredit konsumsi dari 36,6% menjadi 26,8%.

 

(amw/ sumber : kontan)