Ekosistem sistem pembayaran Indonesia siap menyambut kedatangan raksasa asing baru. Setelah sempat menuai polemik di Bali, WeChat Pay berencana menggandeng Bank BNI sebagai mitra kerja. Instrumen pembayaran besutan Tencent ini sepakat tunduk pada Peraturan Bank Indonesia No. 19/8/PBI/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

Ketentuan tersebut mengatur setiap prinsipal asing yang memproses transaksi pembayaran ritel di Indonesia harus bekerjasama dengan lembaga switching domestik. Selain itu, WeChat Pay juga wajib menempatkan dana nasabah di bank BUKU IV (modal inti di atas Rp 30 triliun), serta terhubung ke GPN.

Ihwal kehadiran WeChat Pay tidak terlepas dari masifnya jumlah turis China ke Bali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, wisatawan China menduduki peringkat tiga besar jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Kemudahan transaksi menjadi faktor penting bagi pelaku usaha (merchant) untuk meraup keuntungan dari wisatawan China. Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi setidaknya ada 608 pelaku usaha di Bali yang melayani pembayaran via WeChat Pay.

Selain Bali, ekspansi WeChat Pay ke Amerika Serikat juga berangkat dari latar belakang yang sama. Di Negeri Paman Sam, aplikasi ini berkolaborasi dengan usaha rintisan bernama Swych dan Travelex menawarkan layanan bernama Travelex Pay. Turis China tak perlu repot menyimpan banyak uang dollar dalam dompet. Cukup menggunakan WeChat Pay yang bersaldo yuan, proses konversi denominasi transaksi akan berlangsung secara otomatis layaknya kartu kredit.

Saat ini tengah marak bisnis tekfin pembayaran oleh aplikasi pengirim pesan semacam WeChat. Fenomena ini sejalan dengan studi Visa (2017) bertajuk Innovations for a Cashless World: Consumer Desire and the Future of Payments. Visa menyebut terdapat lima tren pembayaran di masa depan. Salah satunya pembayaran lewat platform pengirim pesan (paying in messaging platform).

Sebelum WeChat Pay, beberapa aplikasi pengirim pesan sekaligus mobile payment sudah melebarkan sayap di Indonesia. Seperti Line. Aplikasi dari Negeri Sakura ini resmi meluncurkan layanan pembayaran bernama Line Pay pada Oktober 2016. Untuk memuluskan aksi korporasi ini, Line menjalin kerja sama dengan Mandiri e-cash.

Demikian pula BlackBerry Messenger (BBM). Awalnya BBM meluncurkan layanan pembayaran berlabel BBM Money pada tahun 2015. Namun fitur ini hanya bertahan selama satu tahun, kemudian ditutup pada pertengahan Juni 2016. Maret 2018, BBM menggaet tekfin lokal, Dana sebagai penyedia uang elektronik.

Hal sama terjadi di negara lain. Kakao Talk, aplikasi pengirim pesan terbesar di Negeri Ginseng memperkenalkan Kakao Pay pada September 2014. Terkini, WhatsApp Pay meluncur di India pada tahun ini.

Jumlah pengguna yang jumbo merupakan modal dasar para penyedia aplikasi pengirim pesan masuk ke bisnis ini. Sejumlah analis menyebut WeChat Pay bersama Alipay menguasai 90% pangsa pasar transaksi non tunai.

Reuters mengestimasi total transaksi WeChat Pay tahun 2016 mencapai US$ 556 miliar atau Rp 7.410 triliun. Masih lebih besar ketimbang total transaksi kartu debit dan kredit di Indonesia tahun 2017 sebesar Rp 6.498 triliun.

Invasi WeChat Pay ke Indonesia akan semakin meramaikan kompetisi perebutan pangsa pasar uang elektronik nasional. Meskipun sudah sesak dengan banyak pemain yang terjun sebelumnya, potensi pasar uang elektronik dalam negeri masih sangat terbuka lebar. Mengutip Statistik Sistem Pembayaran BI, total transaksi uang elektronik selama sembilan bulan terakhir mencapai Rp 31,67 triliun. Nilai tersebut tumbuh 156% dibandingkan total transaksi sepanjang tahun 2017.

Besarnya kue bisnis uang elektronik yang belum digarap juga dikonfirmasi Morgan Stanley. Dalam laporan riset berjudul Disruption Decode, Indonesia Banks: Fintech Unicorns Vs Bank Giants, Morgan Stanley memprediksi penetrasi uang elektronik di Indonesia bakal meningkat mencapai 24% pada tahun 2027. Kemunculan media pembayaran nontradisional ditengarai sebagai pemicu utamanya.

Salah satunya media pembayaran menggunakan quick response (QR) Code yang tengah naik daun. Konon fitur inilah yang menjadikan WeChat Pay begitu perkasa di negara asalnya. Berbekal smartphone, pembayaran bisa diselesaikan dalam dua detik. Biaya investasi sistem QR Code jauh lebih murah dibandingkan mesin electronic data capture (EDC) maupun ATM. Beberapa aplikasi pembayaran lokal berbasis QR Code di antaranya T-Cash (Telkomsel), Go-Pay (Gojek), Ovo (Grup Lippo), dan yap! (BNI).

Potensi mendominasi

Kehadiran WeChat Pay di Indonesia tentu menjadi sebuah topik menarik untuk didiskusikan. Kedigdayaan WeChat Pay di Tiongkok secara tidak langsung pasti memunculkan sebuah pertanyaan lazim di benak banyak orang. Apakah WeChat Pay akan menjadi game changer tren pembayaran tanah air atau justru malah kalah bersaing. Terdapat beberapa pendekatan dari sisi makro yang dapat digunakan sebagai pijakan analisis.

Pertama, transaksi kartu debit masih mendominasi. Sisi lain, total volume transaksi uang elektronik tahun 2017 relatif kecil, 16,57% dibandingkan kartu debit. Meski terus menunjukkan progres pertumbuhan yang signifikan, namun masih diperlukan waktu cukup panjang bagi penyedia uang elektronik sejenis WeChat Pay untuk menggeser posisi kartu debit.

Kedua, penetrasi smartphone di Indonesia lebih rendah dibandingkan negara lain. Hasil survei Pew Research Center (2018) menemukan hanya 27 dari 100 orang dewasa di Indonesia yang memakai smartphone. Berbeda dengan China yang mencapai 68%. Berkaca pada data tersebut, medan yang dihadapi WeChat Pay lebih berat dibandingkan negara asalnya. Apalagi popularitas WeChat sebagai aplikasi pengirim pesan di Indonesia nyaris tenggelam di antara kompetitor.

Meski hegemoni WeChat Pay bakal menemui jalan terjal, kita seyogyanya dapat mengambil pelajaran penting dari pengalaman ini. Alih-alih menjadi jago kandang, sudah saatnya usaha rintisan Indonesia terutama penyedia mobile payment menunjukkan eksistensinya di kancah global. Seperti Go-Jek yang sudah merambah pasar internasional dan bisa mengenalkan layanan Go-Pay di luar negeri. Semakin banyak usaha rintisan yang mengikuti jejak langkah serupa, niscaya posisi Indonesia di dunia ekonomi digital akan semakin diperhitungkan.•