Perusahaan penyedia layanan yang elektronik mulai menjamur di Indonesia. Setidaknya sudah ada 33 perusahaan penyedia uang elektronik yang terdaftar dan mengantongi izin dari Bank Indoneisa (BI). Itu pun belum termasuk perusahaan start-up uang elektronik yang belum berizin.

Banyaknya jumlah penduduk, memang membuat Indonesia dipercaya menjadi raksasa ekonomi digital di masa depan. Sebuah lembaga riset digital Emarketer memprediksi tahun ini jumlah pengguna smartphone di Indonesia mencapai lebih dari 100 juta orang. Apalagi bagi sebagian orang ada juga yang menggunakan smartphone lebih dari satu.

Hal itu menjadi dasar bagi perusahaan digital keuangan maupun perbankan mulai serius mengembangkan uang elektronik. Inovasi pembayaran digital juga sangat cepat, hingga terkini mulai merambah cara transaksi menggunakan barcode alias QR payment.

Begitu besarnya pangsa pasar di tanah air, membuat mereka para penyelenggara uang elektronik mulai berlomba menjaring pengguna sebanyak mungkin. Berbagai cara pun dilakukan.

PT Dompet Anak Bangsa (Go-Pay) misalnya, anak usaha dari Go-Jek itu rela menghambur-hamburkan uang untuk melakukan promosi. Lihat saja tahun ini, Go-Pay begitu sering menggelar promo gila-gilaan.

Hasilnya cukup positif, terlihat begitu banyaknya antrian di merchant yang menjadi mitra Go-Pay saat promo berlangsung. Bayangkan saja Go-Jek berani memberikan promosi waralaba cemilan ayam goreng asal Taiwan Shihlin hanya Rp 1.000. Padahal harga aslinya Rp 42.000.

Banyak juga merchant-merchant lain yang dibuat promosi gila-gilaan pada September 2018 kemarin. Bulan ini Go-Pay juga melakukan promosi dengan menerapkan diskon 50%.

Managing Director Go-Pay Budi Gandasoebrata mengatakan, seluruh hal yang dilakukan Go-Pay tujuannya untuk memperkenalkan dan membiasakan masyarakat tentang cara bertransaksi yang baru.

"Gunanya pembayaran non-tunai pastinya lebih nyaman, aman dan efisien, baik bagi pengguna maupun bagi rekan usaha," ujarnya kepada detikFinance.

Selain itu, Go-Pay juga cukup bergerilya dalam hal menambah jumlah merchant. Go-Pay begitu masif menjaring UMKM untuk menjadi mitranya. Mulai dari warung nasi hingga bakso pinggir jalan sudah mulai menerima pembayaran QR payment dari Go-Pay.

Di laman resminya terdapat ratusan mitra UMKM yang sudah tergabung, mulai dari warung kuliner hingga toko gadget kecil. Merchant UMKM-nya itu tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya hingga Padang.

Sama sepeti Go-Pay, Ovo, QR payment milik Lippo Grup juga memperluas jaringan mitra UMKM-nya. Perusahaan mengaku sudah memiliki 9.000 mitra UMKM.

Ovo juga sering menggelar promo, mulai dari cash back hingga promo diskon hingga 60%. Promosi yang begitu mencolok dilakukan Ovo adalah pemangkasan ongkos perjalanan di aplikasi Grab.

"Dengan proses transaksi yang lebih cepat dan efisien, penggunaan QR code diharapkan dapat membantu merealisasi visi pemerintah Indonesia untuk mendigitalisasi perekonomian Indonesia. Saat ini QR Code OVO sudah diterima di 89.000 merchant di seluruh Indonesia," kata Direktur Ovo Harianto Gunawan.

Berbeda dengan dua kompetitornya itu, Sakuku lebih menjual kemudahan dalam penggunaan uang elektroniknya. Dari sisi pengembangan QR code, Sakuku kini menyediakan fitur yang bukan hanya untuk bertransaksi, QR code juga dimanfaatkan untuk memudahkan transfer uang.

"Kan kalau mau trasfer harus masukan nomor rekening yang biasanya 10 digit, orang ribet juga menghafal nomor rekening itu, jadi nanti nomor rekening itu diubah menjadi QR. Tinggal scan, uang sudah berpindah," terang Direktur BCA Santoso.

Sementara untuk pembayaran, Sakuku juga menyediakan fitur split bill. Fitur ini dianggap cocok bagi anak muda yang suka bayar masing-masing saat kongkow bareng di cafe ataupun restoran.

"Kami memang berbeda dengan mereka, tapi bukan berarti Sakuku kalah dari sisi promo. Di aplikasi Sakuku ada banyak promo. Kami memang tidak bakar duit, prinsip kami lebih baik bisnis yang sustainable," tambah Santoso.

Sementara BNI melalui Yap! juga menerapkan strategi yang sama, promo dan memperbanyak mitra. Namun yang membuat Yap! spesial adalah sistem dompet digital yang terintegrasi dengan kartu kredit maupun debit BNI serta uang elektronik UnikQu.

Menurut GM Divisi E-banking BNI Anang Fauzie, pengembangan Yap! hal itu semakin memudahkan bagi nasbah BNI dalam bertransaksi. Mereka tak perlu pusing jika kartu kredit ataupun debit tertinggal di rumah.

"Lebih praktis dan aman. Terhindar dari risiko uang palsu. Terhindar dari risiko skimming kartu ataupun kecurian kartu. Tidak perlu pusing dengan uang kembalian. Terhindar dari risiko kecurian uang tunai dan lebih higienis karena tidak bersentuhan dengan uang tunai," ucapnya.